Beras Kencur Dan Penjual Jamu Gendong

Masih ingatkah dengan penjual jamu gendong? Mungkin pada zaman sekarang sudah langka. Karena penjual jamu gendong sudah banyak yang beralih memakai gerobak. Tapi waktu itu saya lihat ada juga yang digendong kok! Mungkin kebetulan, ada cuma beberapa gelintir saja dan tidak banyak.

Penjual jamu gendong

Ketika tahun 90-an silam penjual jamu gendong ini sangat banyak. Didesa saya bisa ada 3 orang perhari. Jadi, bagi anda yang rajin minum jamu gendong tidak akan merasa khawatir, karena jumlah penjualnya banyak. Belum lagi di desa sebelah.

Dan sekarang 2016 menjelang 2017, para penjual jamu sudah banyak yang beralih memakai gerobak. Rasanya sedih juga ya ketika melihat ciri khasnya hilang atau bergeser termakan oleh deru zaman yang semakin canggih. Saya rasa ciri khas itulah yang harus dipertahankan. Tapikan kalau digendong terus kasihan melihatnya? Ya, satu sisi memang terlihat seperti itu, satu sisi mereka juga harus melakukan penyesuaian zaman.

Itu hanya yang terlihat disatu bidang kecil saja, mungkin tidak akan berpengaruh besar pada perekonomian global begitukan pola pikir anda! Jangan dilihat kecilnya, justru dari kesederhanaan itu banyak simbol-simbol kebudayaan leluhur yang tersirat pada penjual jamu gendong itu. Apa anda tidak berpikir sampai sejauh itu. Saya memaklumi, orang zaman sekarang memang cara berpikirnya sedikit berbeda dan maunya serba instan.

Budaya kesederhanaan itulah warisan para leluhur yang terselip pada penjual jamu gendong. Ramah-tamah ketika ditanya, tutur bahasa yang halus dan memiliki etika yang sopan.

Ciri khas yang lain adalah jamunya itu sendiri seperti, kunyit, beras kencur, temu lawak, air jahe broto wali dan lain sebagainnya. Apa anda punya penilaian sendiri tentang nama-nama jamu tersebut? Apa penjual jamu itu hanya asal saja memberikan sebuah nama?

Ditemani secangkir kopi yang nikmat, dan suara burung milik tetangga yang saling mendendangkan lagu cuit..cuit..cuit..! Kutumpahkan celoteh pagi ini sebagai tanda rasa bersyukur karena selalu diberi kesempatan hidup dan menikmati berbagai macam nikmat hidup.
Advertisement

8 Responses to "Beras Kencur Dan Penjual Jamu Gendong"

  1. dulu sering saya beli mas pas jamu gendong lewat sama si mba e nyaa....tapi sekarang2 ko jarang yahh..jarang lewat lagi mba jamunya.... :( padahal itu manfaat banget jamu gendong itu, alami lagi hasil ramuan sendiri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mas, jamunya bahan alami tanpa pengawet

      Delete
  2. ya betul sekarang di daerahku juga sangat jarang penjual jamu gendong
    saya juga penikmat jamu, tapi ya sejenis beras kencur saja yang pahit jarang-jarang aku paling takut sama rasa pahit hehe

    ReplyDelete
  3. Pada tahun 90-an, di desa saya juga banyak penjual jamu gendong, mas.
    Tapi sekarang sudah jarang saya temui. Soalnya saya sekarang juga jarang pulang ke kampung. Wkwkwkwk

    Dan mengenai ciri khas dan budaya, memang sangat disayangkan sekali jika budaya bangsa tiba2 hilang begitu saja tergerus oleh kemajuan jaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. He..he..
      Ya ditengok dulu dikampungnya, kalau tidak ada apa perlu dikirim dari jakarta !

      Delete
  4. Sekarang udah jarang penjual jamu gendong.

    ReplyDelete

Komentar yang masuk akan dimoderasi :
1. Jangan menyertakan link aktif
2. Berkomentarlah dengan cerdas!