Potret Blur Keluarga Markonah

Dua insan anak manusia yang sedang berbahagia sekali saat itu. Paijo pemuda miskin dan Markonah anak seorang pengusaha sukses menuju kepelaminan dan berikrar janji-janji suci. Sepasang kekasih yang saling mencinta itu telah merayakan pernikahannya. Terlihat Paijo menggendong Markonah sewaktu Becak yang mengantarnya dari KUA berhenti di depan rumah mereka.

Kamera Sony

“mas... Aku jadi malu nih” kata sang istri yang wajahnya terlihat memerah. 

“aku tidak peduli... Karena hari ini aku sangat bahagia telah menikahimu” Timpal Paijo yang seolah cuek dengan tatapan orang-orang yang ada disekitarnya. 

Hari itu memang terasa sangat indah dan bersejarah bagi mereka. Apalagi sanak keluarga, sahabat serta tetangga menyambut kedatangan mereka sampai-sampai, tukang bakso dan penjual sayur berhenti disebabkan ingin ikutan melihat apa yang sedang terjadi. 

10 tahun telah berlalu, dan sepasang kekasih ini telah memiliki seorang anak. Saat ini Paijo bekerja sebagai kuli bangunan dan sore harinya menjual gorengan untuk menambah penghasilan. 

Markonah sendiri sebagai ibu rumah tangga. Dengan penghasilan suaminya pas-pasan, dia masih bisa menerimanya walaupun semasa sebelum menikah gajian mingguan dari suaminya masih kalah jauh dari uang jajan hariannya. 

Setiap hari dia mengantar dan menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman. Kehidupan rumah tangga mereka terlihat sangat sempurna, namun kehidupan yang tenang sepertinya lebih mudah terpengaruh oleh perubahan-perubahan yang tak terduga serta keinginan diri yang terpendam lama. 

Advertisement
• • • • • •

Hancurnya kebahagiaan keluarga ini berawal ketika Markonah berniat untuk silaturahim kerumah orang tuanya. Sebagai suami yang baik, Paijo berusaha memberikan kebebasan buat Markonah untuk mengunjungi keluarganya. 

Lelaki itu mengantar sang istri sampai kerumah orang tuanya dan mengijinkan istrinya tinggal hingga waktu yang diinginkannya 

"mas... Aku tinggal disini sekitar dua minggu, nanti... bila aku hubungi baru sampeyan jemput...”, kata Markonah. 

Tanpa curiga dan perasaan cemas, Paijo kembali kekampung dan kembali beraktifitas seperti biasa. Semula dia memang merasa heran karena sang Anak tidak diajak ibunnya dengan alasan bahwa dia tidak akan lama dikota dan akan segera pulang. Tapi, dibuangnya perasaan itu jauh-jauh karena dia percaya penuh pada istrinya. 

Hari terus bergulir. Markonah tinggal dirumah ortunya dan Paijo bersama anak satu-satunya tinggal dirumah kontrakannya. kerinduannya terhadap istri tercintanya semakin menggebu setelah 2 minggu berlalu Markonah masih berada dirumah orang tuanya. 

Namun yang membuatnya cemas karena tak ada satupun kabar dari istrinya. Paijo mencoba menghubungi nomor Hpnya, tapi ponselnya tidak pernah aktif. Paijo mulai resah dan gelisah, dia bingung ada apa dengan istrinya. 

Kala itu, dengan perasaan rindu yang sangat, Paijo bertekad pergi kerumah orang tua Markonah dengan maksud dan niat menjemputnya kembali. Perasaan Paijo deg-degan ketika turun dari ojek tepat didepan rumah mertuanya. 

Setelah berada dihalaman depan, dia berusaha membayangkan rumah itu berharap Istrinya keluar dan memeluknya untuk menumpahkan kerinduan setelah 2 minggu lebih berpisah. Tapi, hampir setengah jam dia menekan bel disertai salam yang keras belum juga terlihat tanda-tanda ada orang dirumah itu. Kali ini, perasaan kangen dihati berganti dengan rasa was-was dan curiga. Keringat dingin mulai mengucur di dahinya.... 

• • • • • •

klek..!! Kreett...!! Terdengar Pintu dibuka dari dalam setelah beberapa saat Paijo menunggu didepan. Terlihat sosok wanita yang sudah lama dikenalnya. 

“Dik...!!” setengah teriak girang Paijo memandang wanita itu. Tapi, wajah wanita yang ternyata istrinya itu tanpa ekspresi. 

Bahkan dia segera berlalu dari hadapannya. 

“ada apa ini? apakah ada yang salah denganku? atau... kehadiranku tidak diinginkan olehnya?” Paijo berkata dalam hati. Dia berusaha untuk berfikir positif saat itu, mungkin istrinya lagi sedih atau ada masalah dengan keluarganya. 

Kemudian Paijo berusaha mengejarnya, tetapi Markonah terlanjur masuk kedalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Paijo berusaha mengetuk pintu kamar istrinya berulang kali. Dia berteriak memanggil-manggil istrinya. Tetapi, alangkah kaget dan sakit hatinya ketika Markonah keluar dengan wajah yang sangat marah. Saat itu juga, dia merasa hatinya hancur dan hidupnya serasa berakhir setelah mendengar kata-kata dari istrinya. 

"mas... Sekarang juga kau pergi dari rumah ini dan... Tolong jangan pernah kembali lagi, paham!!", bentak Markonah dengan wajah seolah jijik melihat suaminya. 

"Tapi... Tapi kenapa Dik? Apa yang telah terjadi, coba jelaskan padaku apa salah ku selama ini padamu?" tanya Paijo yang shock dengan kata-kata istrinya. 

"mas... Aku bosan hidup dengan kemiskinan, aku jenuh dengan hidup tanpa bisa membeli apapun denganmu... Dan... Aku tak sudi hidup bersamamu lagi!!” kata Markonah masih dengan sikapnya yang sinis. 

tapi... kenapa baru sekarang kau memprotes... kenapa baru sekarang kau katakan kalau kau menyesal menikah dengan ku...'' kata Paijo dengan berlinang air mata.

Markonah hanya diam dengan membuang wajah ketusnya kesamping. 

“Aku sadar bahwa hidup kita miskin... Tapi, aku akan berusaha membahagiakanmu.... Kau ingat apa yg kau katakan padaku kala itu... kau akan menerimaku apa adanya, apapun adanya diri ini dan sanggup hidup tanpa harta berlebih... lalu mengapa sekarang kau katakan semua ini?” Paijo mencoba mengiba. 

“tolong kembalilah padaku dik, kembali kepada keluarga kita meskipun kau tidak mencintaiku... paling tidak kembalilah untuk anak kita... atau, pulanglah sejenak untuk menjemputnya... setelah itu kau kembali lagi kesini..tidak mengapa dik... aku ikhlas dengan semua ini kalau memang itu adalah pilihanmu...” Paijo mencoba membujuk istrinya. 

“kini aku telah sadar bahwa yang menyebabkan kau jadi berubah ternyata kau tidak lagi bahagia denganku, bahwa kemelaratan dan kesederhanaan yang kita jalani tidak bisa membayar kebahagiaan yang selama ini kau dapatkan dari orang tuamu... Aku ikhlas dengan semuanya... nanti aku akan menjelaskan kepada kedua orang tuaku bahwa kau lebih bahagia disini...” 

Dia menutup kata-katanya diiringi denga air mata yang mengucur deras. Paijo sadar bahwa istrinya tidak lagi mendengar kata-katanya, keluh kesahnya dan jerit serta tangisnya saat itu. 

Paijo meninggalkan rumah itu dan berusaha menapaki jalan yang sebelumnya telah dia lalui. Air matanya terus menetes dipipi, dan dia juga lupa bagaimana rasanya letih. Bahkan dia tidak peduli dengan kendaraan yang melaju dijalanan, yang ada hanya kekecewaan yang mendalam menyelimuti hatinya. 

• • • • • •

’Pemirsa... Saat ini telah terjadi kecelakaan maut dijalan Beringin Raya!, seorang pejalan kaki tewas tertabrak bis kota yang melaju dengan kecepatan tinggi... Dari identitasnya, Korban diketahui bernama Paijo dan tinggal di...’ 

Siaran langsung dari televisi tersebut menarik hati Markonah untuk mengikutinya yang malam itu dia sedang santai diruang tamu rumahnya. Tapi, dia semakin terkejut bahwa korban itu adalah suaminya. 

Kini dia mulai resah, teringat kata-kata terakhir yang diucapkanya kepada suaminya membuat badanya menggigil, keringat dingin mengucur deras, dan wajahnya menjadi pucat. Dengan refleks dia matikan televisi didepannya yang masih saja menampilkan foto suaminya. 

Ketika dia akan beranjak kekamarnya, tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar.... Tok... Tok... Tok... 

“siapa itu? Pa... Ma... Kaliankah itu?”, teriaknya memastikan siapa yang ada diluar. Tapi, hanya hening yang dia dengarkan. 

Markonah tidak yakin orang dibalik pintu itu papa dan mamanya. karena orang tuanya kembali dari luar negeri masih 1 minggu lagi. Tok... Tok... Tok... 😫

“si... siapa kamu... Ce... Cepat jawab!!”, kali ini Markonah benar-benar ketakutan. Dan... jantungnya seakan terhenti ketika dia mendengar suara yang ada dibalik pintu rumahnya tersebut. 

“Dik.k.kk.... Bu..ka.. pin.n..tu.unya.a.aa...”, suara yang terdengar parau, berat dan datar seolah bukan dari manusia sewajarnya. 

“si...siapa kamu... Pergi dan... Jangan ganggu aku lagi!!”, teriak Markonah. 😖

“Dik.k.kk.... Bu..ka.. pin.n..tu.unya.a.aa... Aku tidak.k.kk akan pergi.ii... sebelum mengatakan.n.nn satu.u hal padamu.u.uu..”, suara itu memohon walaupun tetap terdengar mengerikan. 😟

Kini, Markonah tahu betul bahwa suara itu dari arwah suaminya. akhirnya, dengan memberanikan diri dia mencoba membukakan pintu rumahnya. Jantungnya deg-degan, dengan mata terpejam dan... jemari gemetaran dia memutar gagang pintunya... klek... Krieeetttt... Tiba-tiba... Terdengar suara menyayat hati dari sosok yang ada di hadapannya... 😓

“Cieeeeeee.... Cieee sudah jadi Janda kembang ni yee... Suwit suwiiit..!!!" 😁

Advertisement

22 Responses to "Potret Blur Keluarga Markonah"

  1. kebetulan banget saya sebulan ini sedang mencari janda yang kepalanya pake kembang, menurut dukun saya segera nikahi janda ini maka saya akan semakin dan awet ganteng...gituh kata si-mbah dukun guru saya mah....mang
    namanya Markonah ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah telat mang..!
      Padahal kemaren sore ada cewek yang pakai kembang lewat dipinggir makam 😅

      Delete
    2. Mas Indra, kenapa namanya MArkonah? itu mengingatkanku pada sesuatu, mirip story di atas :D hehehe

      Mang lembu, aku nggak bisa komen di blogmu :(

      Delete
  2. Kisah rumahtangga yang menyedihkan, tapi memang benar banyak kejadian diluar sana dengan kekurangan ekonomi rumahtangga yang dibina hancur, semoga para pembaca cerita ini (termasuk saya) bisa terbuka hatinya jangan sampai gara-gara ekonomi rumahtangga jadi berantakan.

    Cie.. Cie.. Yang jadi janda kembang semoga hidupnya bahagia. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa diambil hikmahnya, asal jangan ngambil kembang dipinggir jalan karena itu sudah punya toko kembang 😂

      Delete
  3. Jadi Paijo wafat! Innalillahi wainna illaihi rojiun
    dan Markonah jadi janda
    biduk rumah tangga memang banyak ujiannya, tidak selamanya lempeng-lempeng saja, dimana peranan orang tua Markonah ya?
    mungkin orang tua Markonsh tidak mau ambil pusing dengan masalah anak dan menantunya
    kita ambil hikmah baiknya saja, kebutuhan materi adalah pelengkap bukan segala-galanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, materi hanyalah pelengkap akan tetapi banyak yang gagal dalam melewati ujian ini

      Delete
    2. eit, blusukan maning tak arani mau durung tekan kene tibane wes toh
      yo mugo-mugo kita bisa memetik hikmah dari cerita di atas

      Delete
  4. Replies
    1. Waduh..!
      Saya kurang paham buat novel mas

      Delete
  5. ikut nimbrung dulu di blog ini ,,, saya neng umar bang , salam kenal dulu ya edisi kali ini ,,, hihi

    ReplyDelete
  6. gilaaaa aku kira sad ending taunya ujung cerita bikin ngakak hahaha
    keren deh ceritanya :)
    tapi nasib si anak pa ijo sama markonah gimana tuh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah tidak usah diteruskan nanti banyak yang sedih he..he..

      Delete
  7. iiiihhh itu kameranya warnanya putih... aku sukaaa... buat aku yah... :D ahahahahah becanda deh...

    eniwei... kok endingnya gitu? O_O
    Lhaaaaa.. hahahahhahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hus.. Pelan-pelan ketawanya ! Tetangga sebelah lagi sakit gigi 😂

      Delete
  8. Endingnya membuat kaget gara-gara cie-cie itu :)
    Kemiskinan memang bisa membuat kesetiaan memudar; meski tak sedikit justru dari kemiskinan semakin membuat suami istri berusaha bersama mengubah keadaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung sampean tidak punya penyakit jantung, kalau punya pasti shok deh he..he.. 😅

      Delete

Komentar yang masuk akan dimoderasi :
1. Jangan menyertakan link aktif
2. Berkomentarlah dengan cerdas!