Skip to main content

Modernisme Menciptakan Individualisme

Hallo sobat pembaca semua, masih tetap semangat membaca artikel-artikel di blog ini. Baiklah saya akan membagikan sebuah artikel yang bisa dibilang sedikit manusiawi. Karena salah satu dari sifat manusia adalah suka "mengeluh."


Ups..! Artikel berikut ini bukan berisi tentang keluhan, melainkan suara hati. Ya karena setiap manusia selalu di penuhi oleh suara-suara baik itu di fikiran maupun dihati.

Kepada siapa kita mengadu, ketika setiap detik para komunitas cacing didalam perut berdemo dengan suara lantangnya mereka berteriak meminta jatah. Ketika organ usus saling melilit karena tidak sesendok nasi pun bisa ditelan?

Pintu siapa yang akan kita ketuk? Para selebritis, bintang film, ketua bulog, atau mereka yang tinggal dibalik pagar tinggi. Ataukah kita harus mengadu pada rumput yang bergoyang? Saran admin untuk yang terakhir jangan dicoba, karena nanti bisa dibilang orang gila he..he..

Kepada siapa kita mengeluh ketika harga beras, telur dan minyak merangkak naik, ketika uang spp tidak mencukupi, ketika harga obat begitu sombong dan cuek, sementara adik kecil kita menggigil panas dingin? Apakah kita akan mengeluh kepada mereka yang kartu kredit dan mobilnya berbaris rapih digarasi?

Lantas siapa yang mau mendengar? Siapa yang mau peduli pada nasib dan jerit pedih suara kita? Sedikit sekali sobat, ya sedikit sekali. Bukan mereka yang sibuk dengan bisnis, bukan juga para selebritis atau bapak-bapak kita yang begitu getol menyuarakan kemanusiaan. 


Nasib kita ditangan kita sendiri, ya betul semuanya tergantung kita. Keluhan dan pengaduan hanya berputar kemudian kembali ketelinga kita sendiri. Modernisme telah menjebak kita pada sikap individualisme yang tinggi. Kepedulian dan humanisme telah terkikis oleh ego dan nilai rupiah. Sungguh sangat mengerikan..!

• • • • • •

Mungkin hanya Tuhan yang mau mendengar, yang mau dijadikan tempat sampah untuk menampung keluh kesah setiap hamba-Nya. Hanya Tuhan yang masih "look down" meski Ia sendiri berada diatas segalanya. Dalam keEsaan-Nya, dalam sifat Ketuhanan-Nya, Ia justru 'care' pada kemanusiaan. Something wrong about the human..!

Akan tetapi kita tidak mungkin meminta Tuhan untuk sekedar mengurusi kenaikan harga, perbaikan ekonomi, atau malah sekedar meminta turunnya nasi dari langit.

Lantas ketika sahabat kita menjerit kelaparan, kenapa kita harus berpaling? Kenapa kita begitu cuek pada kemanusiaan, sosial dan uluran tangan? Mungkinkah kita adalah bagian dari anak-anak yang dibesarkan oleh sistem, yang secara tidak sadar, menjadikan kita buta dan tuli terhadap kemanusiaan.

Inikah modernisme yang selama ini kita sepakati namun menendang kita jauh kedalam kesendirian. Sehingga jerit tangis serta kepedihan hanya kita yang mendengar sendiri. Kita tak perlu lagi menjadi makhluk sosial (homo socius), tak perlu saling berbagi dan memberi, bahkan kalau perlu saling memangsa dan menerkam seperti predator..!

Mungkin kita perlu melihat kembali saudara-saudara kita yang di desa yang sering dituduh kuno, ketinggalan zaman, bahkan primitif. Karena disana, ditengah-tengah kesederhanaan masih tersisa kepedulian dan uluran tangan. Paling tidak, disana manusia masih diperlakukan sebagai manusia, bukan mesin.

Baiklah semoga apa yang saya bagikan kali ini dapat membuka mata hati kita bersama tentang lebih peduli kepada kemanusiaan. Salam Indonesia..!

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar