Skip to main content

Kenyataan Pahit Rupiah

Rupiah adalah mata uang yang kita gunakan untuk bertransaksi sehari-hari dinegeri yang kita cintai ini. Sebuah negeri yang damai, tentram, berdaulat dan merdeka..katanya..!

Karena kemerdekaan adalah hak semua bangsa, begitulah yang sering kita baca dan dengar bersama saat sekolah dasar dahulu. Saat upacara bendera tiba maka kita akan mendapatkan giliran untuk membaca UUD 45 pada waktu itu. Ingatan ini masih tersimpan jelas dan rapat dalam sudut pikiran.


Entah kenapa memori masa kecil begitu indah untuk dikenang, tidak seperti saat ini dimana kita sudah dewasa yang selalu dipenuhi berbagai pikiran yang tak mau juga hilang. Saat masih kecil kita di ajarkan untuk bangga menjadi bangsa yang merdeka dan bebas dari penjajahan.

Kita ditanamkan oleh berbagai sejarah kemerdekaan yang ditulis begitu rapih, terstruktur dan terencana oleh para penulis. Seolah-olah bahwa apa yang ditulis pada buku sejarah tersebut adalah sebuah kenyataan yang sebenarnya. Mungkin dahulu kita terlalu lugu menerima segala informasi yang masuk dikepala.

Tapi, apa yang terjadi setelah kita beranjak dewasa, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada sejarah dahulu, rasanya begitu sakit dan pahit. Rasanya seperti ingin mengangkat sebuah gunung dan melemparkan ke kepala mereka, biar tahu rasa sakit jika dibohongi.

By the way, semakin hari kita semakin dewasa, dan pola pikir kita pun semakin berkembang. Kita dituntut untuk menghidupi kehidupan sehari-hari dengan bekerja, dan tentu saja yang dicari adalah uang. Uang tersebut adalah sebuah sarana untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, dari mulai makan, ongkos beli bensin sampai membayar toilet umum.

Uang rupiah yang selama ini kita kira dibuat oleh lembaga pemerintah yang bernama Bank Indonesia (BI), karena yang berhak mencetak uang adalah Bank. Tapi, pada kenyataannya yang mencetak uang rupiah kita adalah pihak swasta yang katanya mengaku Bank Sentral.

Dan yang lebih mengherankan lagi semua mata uang ada di dunia itu dicetak oleh Bank Sentral yang sudah jelas pihak swasta. Ada apa ini..? Apakah semua negara begitu bodoh hingga tidak bisa mencetak mata uangnya sendiri..? Apakah semua negara tidak bisa membuat kertas dari batang pohon..?

Kita pasti bangga jika uang rupiah yang selama ini beredar dicetak oleh negara yang berdaulat dan merdeka. Kita pasti bangga dengan desain mata uang rupiah yang sangat bervariasi dan kreatif dan bisa menyaingi bangsa lain. Kita pasti bangga jika rupiah bisa bersaing dengan mata uang lain di dunia sebagai produk lokal asli Indonesia. Tapi, pada kenyataannya kita tidak menguasai atas rupiah itu sendiri.

Apakah bangsa kita begitu bodoh hingga tidak bisa mencetak uang sendiri tanpa bantuan asing..? Apakah kertas kita begitu jelek hingga tak layak dijadikan lembaran-lembaran uang rupiah..? Apakah mesin pencetak uang begitu mahal hingga kita tak mampu membelinya..? Tentu tidak bukan..! Jawaban yang ada pada kepala Anda mungkin hanya satu yaitu mengikuti sistem..!

Sistem yang dibuat oleh segelintir orang yang menguasai semua keuangan negara, sungguh miris mendengarnya. Bahkan negara super power yang bernama negara Paman Sam pun tidak berkuasa atas uang Dollarnya..! Karena yang mencetak uang Dollarnya pun adalah pihak swasta yang bernama Bank Sentral.

Well..well..well.. what happen is this..!

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar