Skip to main content

Permata Iman

Well, berbicara tentang iman saya rasa tidak semua orang paham dan mengerti akan makna iman yang sebenarnya. Iman atau keyakinan ternyata memiliki banyak pecahan dalam berbagai pengertian. Jika menurut orang awam arti iman adalah percaya atau yakin terhadap sesuatu.

Tapi menurut sebagian kalangan iman itu harus di saksikan dan dibuktikan. Hal inilah yang terkadang bisa memicu pertengkaran. Karena perbedaan sudut pandang, dan wawasan tiap-tiap individu itu berbeda. Tiap kepala memiliki banyak pemikiran, hal ini tentu akan banyak menimbulkan perbedaan. Dan hal tersebut dikatakan normal, karena dengan adanya perbedaan tersebut kita bisa belajar banyak hal.


Sebagai contoh sederhana ada yang ditemui oleh Nabi Khidir dalam rupa seorang nelayan, tapi di lain hari ada yang ditemui oleh Nabi Khidir dalam rupa seorang pengemis, dan di lain hari pula ada seseorang yang ditemui oleh Nabi Khidir dalam mimpinya seperti seorang guru.

Nah, perbedaan inilah yang terkadang bisa menimbulkan sedikit salah paham, karena ketiga orang tersebut melihat Nabi Khidir dalam wujud, waktu dan tempat yang berbeda. Jadi, tidak perlu ada yang namanya masalah, karena ketiga orang tersebut meyakini bertemu Nabi Khidir dalam wujud, waktu dan tempat yang berbeda.

By the way, begitu pun dengan sebuah permata..! Ada yang meyakini bahwa permata itu berwarna biru, ada yang meyakini permata itu berwarna merah, dan ada pula yang meyakini bahwa permata itu berwarna hijau. Semuanya menyaksikan permatanya dalam wujud nya masing-masing. Jadi, wilayah keyakinan itu memang benar-benar memiliki banyak rupa.

Anyway, apakah kita sudah menemukan arti iman itu sendiri? Iman yang bisa menghubungkan satu rupa dengan rupa yang lain, iman yang bisa merangkul segala hal perbedaan. Karena apa yang Anda yakini saat ini hanyalah sebagian pecahan saja.

Sebagai perumpamaan saja, jika iman adalah sebuah batu yang utuh, kemudian batu tersebut jatuh dan pecah berkeping-keping, maka Anda hanya menemukan kepingan-kepingan iman. Jika kepingan-kepingan batu itu dibuat utuh kembali maka barulah dikatakan iman secara utuh.

Yang ingin saya katakan adalah, temukan arti iman secara utuh dalam diri Anda. Jangan menyisakan ruang untuk mengoreksi perbuatan orang lain, tapi sisakan ruang untuk mengoreksi perbuatan diri sendiri. Karena dalam palung iman tersebut terdapat sebuah permata yang sedang menunggu Anda.

Temukan permata itu dan sinarilah kehidupan dunia lewat kebeningan permata yang berada dalam Palung keimanan. Saat Anda mencapai hal tersebut, maka bantulah yang lain menemukan permatanya masing-masing lewat sebuah pengajaran.

Jika Anda bingung dengan apa yang saya tulis, maka segeralah ke dapur untuk membuat secangkir kopi, sebelum otak Anda pecah dengan pengetahuan yang sulit dicerna ini..! 🤣

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar